Pages - Menu

Tampilkan postingan dengan label teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Februari 2014

Dengan Kotak Ini, Paru-paru Cangkokan Tetap Bernapas Selama Disimpan

Organ tubuh manusia yang hendak dicangkok tidak bisa menunggu terlalu lama di luar tubuh manusia. Maka begitu ada donor, semuanya serba terburu-buru. Dokter dan pasien harus segera menyiapkan operasi sebelum organ tersebut rusak.


Kini, teknologi telah membuat semuanya jauh lebih mudah. Jantung dan paru-paru, juga organ cangkokan lainnya seperti ginjal dan hati, bisa disimpan lebih lama dengan alat khusus. Hebatnya, selama disimpan organ tersebut bisa tetap bekerja. Jantung tetap berenyut, paru pun bisa tetap bernapas.

Alat khusus berupa kotak ajaib yang diberi nama Organ Care System tersebut diciptakan oleh para ilmuwan dari TransMedics, sebuah perusahaan yang berbasis di Massachusetts. Prinsipnya adalah mensimulasikan fungsi sistem organ, persis seperti di dalam tubuh manusia.

Di dalam kotak ini pula, darah dari donor dialirkan untuk menjaga fungsi organ tetap berjalan. Sirkulasi oksigen tetap terjaga, bahkan hati tetap bisa menghasilkan empedu dan ginjal bisa menghasilkan urine selama disimpan dalam kotak ajaib ini.


Para dokter bedah di Phoenix baru-baru ini memanfaatkan teknologi mutakhir ini dalam sebuah operasi pencangkokan paru. Kesuksesan itu dipublikasikan melalui sebuah laporan di Al Jazeera Amerika.

"Suara paru-paru itu bernapas secara mekanis sangat surreal," tutur Shini Somara, wartawan Al Jazeera Amerika yang menyaksikan operasi tersebut, seperti dikutip dari Daily Mail.

Dengan cara tradisional yakni pendinginan, organ cangkokan umumnya hanya bisa bertahan antara 5-9 jam. Jantung bahkan hanya bisa bertahan antara 3-8 jam. Namun dengan alat ini, jantung dan paru-paru bisa disimpan hingga 10-11 jam, atau bahkan lebih lama lagi.

sumber: apa kabar dunia

Jumat, 24 Januari 2014

Pelajar ini Menciptakan Kaos Anti Noda


Pelajar dari San Francisco bernama Aamir Patel menciptakan Silic, kaos atau t-shirt antinoda. Bekas noda tumpahan minuman beralkohol maupun berwarna tidak akan menempel pada kaos, sekalipun Anda menumpahkannya dalam jumlah banyak.

Kemampuan antinoda ini berkat superhydrophobic nanotechnology, yang menggunakan struktur mikroskopis untuk menahan segala jenis cairan berbasis air dengan membentuk lapisan udara antara kain dan molekul cairan.

Seperti dilansir dari laman Mashable, Jumat, 20 Desember 2013, nama Silic diambil dari miliaran partikel silika yang melapisi kain. Bahkan keringat tak akan melekat pada pakaian bila Anda mengenakan Silic. Cairan tubuh akan menguap ke udara sehingga tidak menempel pada permukaan kain.

Proyek inovasi Patel ini diluncurkan melalui kampanye Kickstarter, dan telah mengumpulkan modal lebih dari US$ 60 ribu, atau tiga kali lipat dari modal awal sebesar US$ 20 ribu. Untuk desain kaos ini, Patel telah menggandeng mantan desainer ternama Vera Wang.

Pemesanan kaos akan mulai dikirimkan mulai Mei tahun depan. Selain itu, kaos ini juga akan dijual di toko-toko ritael secara luas. "Saya telah dihubungi oleh agen pengecer yang berharap bisa segera menjual kaos ini di toko," kata Patel kepada Mashable.

Jumat, 13 Desember 2013

Masker Tidur yang Bisa Memilih Mimpi




Nama masker ini adalah Remee, bentuknya seperti masker tidur biasa. Remee merupakan perangkat peningkat REM (rapid eye movement) yang bisa membantu penggunanya mengarahkan mimpinya sesuai pilihannya, mulai dari terbang hingga mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Remee merupakan buah pikiran Duncan Frazier dan Steve McGuigan yang mendirikan perusahaan Bitbanger Labs.

Proses kerjanya, saat dalam posisi REM, maka alat ini bekerja masuk alam mimpi dengan cara kilatan cahaya. Remee akan terus menunggu setidaknya sampai 2 jam saat kita benar-benar sudah dalam posisi REM yang dalam.

Uniknya, kita bisa menyadari kalau sedang bermimpi dan memutuskan apakah tetap melanjutkan atau berpindah ke sesi mimpi yang berbeda.
Frazier dan McGuigan mendapat dana dari situs kickstarter dengan target mendapat dana US$35 ribu (Rp326,7 juta). Pada pekan ini, ada lebih dari 6.550 orang menyumbang dan terkumpul US$572.891 (Rp5,3 miliar) untuk mendanai Remee.

Alat ini dijual seharga US$95 (Rp886 ribu) dan kini telah mendapat tujuh ribu pesanan dan kebanyakan berasal dari Australia, Italia dan Spanyol. 

Kamis, 05 Desember 2013

Seragam Tentara AS Masa Depan Mirip Iron Man

Tampaknya kostum yang dipakai dalam Iron Man bukan sekadar khalayan. Baju anti peluru berteknologi tinggi ini mengilhami angkatan bersenjata Amerika Serikat menjadikannya nyata. Inilah dia TALOS: The Tactical Assault Light Operator Suit.

TALOS adalah baju tempur baja yang sangat inovatif. Di dalamnya terdapat teknologi pemantauan daya, kesehatan, dan sistem senjata canggih. Senada dengan janji Letnal Kolonel Karl Borjes, Penasihat Peneliti di Pusat Penelitian, Pengembangan, dan Rekayasa US Army, "TALOS juga memiliki sistem komunikasi, sensor, radar, dan lainnya. Semua teknologi terdepan ada di baju tempur baja ini."
Ilustrasi
Gareth McKinley, Profesor di Massachusetts Institute of Technology, membenarkan bahwa dirinya dan beberapa ilmuwan lain di MIT tengah membuat baju tempur yang ada di cerita-cerita fiksi di film-film Hollywood.

"Ya, bentuknya akan sama dengan baju Iron Man," kata McKinley. Bahkan, mengingat bahan baku utama dari logam yang rentan terhadap magnet dan listrik, Sersan Mayor Chris Faris mengungkap, "Para ilmuwan di Massachusetts Institute of Technology, AS, terlibat dalam desain baju tempur ini. Tim ilmuwan juga sedang mengembangkan pelindung tubuh cair yang akan melindungi tubuh pengguna dari efek medan magnet dan arus listrik."
Tentunya rencana para peneliti militer tersebut mendapat sambutan positif dari para tentara AS. Mereka berharap TALOS cepat terwujud. Dan tampaknya proyek ini tidak main-main. Pengerjaan baju TALOS dijadwalkan rampung dalam waktu satu tahun, dan penggunaannya bisa dimulai pada tahun 2016.

Kemajuan teknologi menyongsong masa depan memang harus dipersiapkan. Keamanan serta keselamatan prajurit sebagai manusia adalah prioritas. Walau pada akhirnya mungkin menguras dana negara untuk kepentingan militer. Tinggal tersisa pertanyaan mendasar: Apakah tujuan utamanya menyelamatkan nyawa atau menjadi mesin penghancur?

Sub-Biosphere 2, Kota Bawah Laut Masa Depan

Bila daratan di bumi terendam air, bila peradaban manusia terlempar ke masa saat Kevin Costner menjelajah dunia penuh air di atas perahu (Waterworld, 1995). Apa yang bisa dilakukan manusia?

Arsitek asal London mungkin menjawab kekuatiran tersebut dengan merancang beberapa bangunan yang menjadi kota di bawah laut untuk mengantisipasi jika bumi terendam air laut di masa datang.
 
Bangunan, atau kota ini dinamai Sub-Biosphere 2 diklaim bisa menampung hingga 100 orang dalam satu kubahnya. Di setiap kubah sudah dirancang agar produksi makanan, udara, lapisan biosfer, laboratorium, tersedia lengkap. Singkatnya, dalam kubah seluas 1.105 kaki ini manusia ak memerlukan kebutuhan lain dari dunia luar.

Pauley merancang bangunan ini karena dirinya meyakini bumi akan tenggelam oleh air laut di masa datang. Ia mengatakan, jika pemanasan global tak ditanggulangi dan terus berjalan, lapisan es akan mencair dan membuat bumi tenggelam oleh air laut.

"Saya ingin ketika orang-orang baru menyadari hal tersebut dan ingin memiliki rumah di bawah laut, saya sudah memilikinya," kata Pauley seperti dikutip dari Daily Mail.